Senin, 23 Desember 2013

Depresiasi Rupiah Redam Defisit

Market Flash - Pelemahan atau depresiasi tajam Rupiah dalam beberapa pekan terakhir mulai dilihat pelaku pasar sebagai strategi Indonesia untuk mengatasi permasalahan defisit neraca berjalan atau current account.

depresiasi Rupiah, Depresiasi Redam Defisit, depresiasi

Depresiasi Rupiah bisa dilihat sebagai kebijakan yang disengaja. Setidaknya ada dua indikator yang dapat dilihat, yaitu :

  • Keputusan Bank Indonesia (BI) yang tidak lagi menaikkan BI Rate pada Desember.
  • Cadangan devisa (tidak termasuk pinjaman jangka pendek) justru naik yang mengindikasikan tidak ada intervensi signifikan BI di pasar keuangan.
Jadi, dapat dilihat Rupiah ini sebenarnya digunakan sebagai bagian dari instrumen untuk mengurangi defisit neraca berjalan.

Pelemahan Rupiah menjadi penyerap guncangan (shock absorber) dari gejolak ekonomi global. Rupiah yang melemah adalah aset berharga untuk ekonomi Indonesia. Fleksibilitas pergerakan nilai tukar Rupiah justru menjadi mekanisme pertahanan yang baik untuk ekonomi Indonesia.

Bagaimana penjelasannya? Ketika Rupiah melemah, harga produk Indonesia yang di ekspor menjadi lebih murah di pasar Internasional. Misalnya, ketika nilai tukar Rupiah masih Rp 9000 per USD, harga produk ekspor Rp 100.000, setara dengan USD 11,1. Namun, ketika Rupiah melemah menjadi Rp 12.000 per USD, harga produk yang sama akan turun menjadi USD 8,33.

Di sisi lain, pelemahan Rupiah juga membuat barang impor lebih mahal. Misalnya, ketika nilai tukar masih Rp 9.000 per USD, harga produk impor senilai USD 10 setara dengan Rp 90.000. Namun, ketika Rupiah melemah menjadi Rp 12.000 per USD, harga produk yang sama akan naik menjadi Rp 120.000. Artinya, dengan depresiasi Rupiah, produk Indonesia makin kompetitif di pasar internasional sehingga ekspor bisa tumbuh tinggi. Di sisi lain, harga produk impor akan makin mahal sehingga produk buatan dalam negeri bisa bersaing.


Previous
Next Post »